Wednesday, December 17, 2014

BIDADARI PULAU HANTU

Directed by: Gobind Punjabi
Sutradara : George Hutabarat
Starring by: Mongol, Gian Subianto, Khadijah Syalimar, Vitalia Shesya, Nadia Zuhra, Cariesta Maya, Albern


Alasan saya menonton film ini karena Mongol merupakan Comic favorit saya sewaktu dia masih di SUCI (Stand Up Comedy Indonesia) dan film ini merupakan film horror pertama buat dia. Ingin tahu bagaimana perannya dari comedian ke sebuah film horror yang nampaknya merupakan film horror serius, bila dilihat dari penampilan covernya.

Dan memang film ini film horror serius sementara kehadiran Mongol disitu sekedar untuk memperiang suasana, malah sebenarnya menurut saya banyak dipaksakan sehingga kehadiran Mongol sebagai makluk transgender yang berprofesi sebagai perias make-up disitu sayangnya tidak banyak menolong sebagai bagian dari film horror.

Berkisah tentang sepasang kekasih, Evan dan Gesti, yang pergi ke suatu pulau untuk melakukan foto pre-wedding bersama sahabat mereka Roman (fotografer), Remi (penata rias), Vidi (sepupu Gesti), dan Tilda (sahabat mereka semua). Keberangkatan ke pulau itu menjadi momen sendiri untuk menampilkan pose-pose seksi tiga artis bertubuh bagus itu di atas yacht namun bukan itu yang saya tunggu…

Kemunculan hantu perempuan pembawa clurit banyak diumbar di seperempat bagian awal, mulai dari mimpi Evan, mimpi Vidi, lalu ketika Evan dan Gesti mengambil foto di berbagai lokasi yang ternyata diikuti dengan kemunculan hantu wanita itu di setiap pose. Sesuatu yang menurut saya diluar pakem karena hantu di film ini keluar siang hari. Tapi rasanya terlalu banyak sex talk di film ini. Saya bukan orang yang menghindari sex talk dalam cerita tapi rasanya saya mendengar terlalu banyak dan rasanya hampir membuat perut saya melilit karena bertanya-tanya apakah tidak ada topik lain yang bisa dibahas anak-anak muda keren ini selain sex? It sucks and boring

Beberapa aktivitas juga tidak pas, misalnya seperti adegan memisahkan diri dalam kelompok untuk mencari teman yang hilang. Itu terjadi dua kali, pertama saat terpisah dengan Roman di sebuah taman mereka mengatakan akan membagi dua kelompok untuk mencari Roman, Vidi dan Evan di satu kelompok sementara Remi, Tilda, dan Gesti di kelompok lain. Vidi dan Evan mencari tapi kelompok yang lain malah duduk-duduk di taman dan bergosip soal Evan dan Vidi, sekedar menjelaskan ke penonton bahwa Evan dan Vidi pernah punya hubungan. Yang kedua, di malam hari saat mencari Roman yang kedua kali karena dia belum kembali ke bungalow. Kali ini yang mencari Evan dan Tilda, sementara Vidi, Remi, dan Gesti di kelompok lain…yang lagi-lagi hanya kelompok Evan dan Tilda yang mencari tahu namun kelompok yang lain malah tinggal di bungalow, tidak ikut mencari, dan hanya bergosip soal Evan dan Tilda bahwa keduanya suka berhubungan seks. What a waste…

Aktivitas yang tidak pas lainnya bisa dilihat saat Vidi dan Remi istirahat di speedboat setelah lari-lari ketakutan meninggalkan Tilda, bermaksud pergi dari pulau dan ternyata malah bertemu dengan sosok hantu wanita berclurit. Mereka yang seharusnya ketakutan setelah kabur dari tempat itu kemudian di adegan berikutnya malah memunculkan adegan berenang di pantai dan keduanya nampak tertawa-tawa senang. Sungguh jeda yang sangat panjang menurut saya…atau justru mereka bisa mengubah ketakutan dengan hebatnya dalam hitungan detik?

Beberapa kebocoran di gambar juga terlihat. Terlihat ada orang lewat ketika adegan Roman menguntit Jessica yang akan mandi di laut padahal digambarkan dalam cerita bahwa mereka hanya sendirian di pulau tersebut. Lalu saat adegan dimana Gesti masuk ke kamar, menangis karena cemburu melihat Tilda dan Evan (yang baru pulang setelah melakukan pencarian) ternyata bergandengan tangan. Saat adegan itu kamera melakukan panning pada Gesti, ingin menggambarkan bahwa ada hantu masuk ke dalam kamar itu dan ternyata memang dugaan saya tepat karena detik berikutnya Gesti berteriak-teriak ketakutan, namun anehnya saya melihat bayangan si cameraman muncul di dinding….   

Kalimat yang tidak pas juga muncul, masih berlanjut di adegan saat Gesti yang ketakutan keluar dari kamar dan menghambur ke pelukan Evan. Bukannya histeris pada hantu, Gesti malah memberi kalimat yang menurut saya absurd, “Kamu nggak ngapa-ngapain kan sama Tilda?” Man, dia baru ketakutan melihat hantu dan yang terlintas di pikirannya apakah calon suaminya ngapa-ngapain sama sahabatnya? Kalimat yang parah ini membuat saya maklum saja mendengar beberapa pemainnya salah menyebut nama, dua kali nama Roman salah sebut menjadi Ramon….pertama kali oleh Albern, pemerannya sendiri saat dia menantang si hantu di pantai, yang kedua oleh Evan di adegan akhir saat meninggalkan pulau dengan speed boat.

Saya mengacungkan jempol pada pembuat efek yang bisa membuat jari Evan dan Gesti benar-benar ‘hilang’ setelah di potong Jessica. Evan di jari kelingking dan jari manis tangan kanan, sementara Gesti ibu jari tangan kiri. Tapi sayangnya kontinity yang bagus itu sedikit ternoda oleh telinga Evan yang masih utuh padahal Jessica jelas-jelas memotongnya sebelum melakukan adegan potong jari sementara darah sudah membanjiri kerah leher Evan di bagian sebelah kanan.

Dan pada akhirnya, rasanya saya sudah terlalu banyak mengkritik film ini, saya bingung kenapa tokoh Jessica harus dimunculkan dalam cerita? Memang tujuan karakter ini mungkin membalaskan dendam kakaknya yang tewas dibunuh saat pre-wedding di pulau dan menjadi hantu gentayangan supaya tiap calon pengantin yang mengambil foto pre-wedding di tempat tersebut mengalami nasib naas yang sama, tapi kenapa tidak menyerahkannya kepada si hantu itu sendiri? Kenapa harus ada Jessica yang membunuhi Evan cs satu persatu?

Tadinya saya berpikir hantu itu muncul hanya sebagai penampakan saja sementara tokoh antagonis yang berperan sebagai pembunuh brutal adalah Jessica, tapi ternyata apa yang saya pikirkan tidak sejalan dengan ceritanya karena ternyata hantu itu membunuh juga…dia membunuh Vidi saat berenang di kolam renang bersama Remi…tapi mirisnya hanya satu korban saja…sementara yang lainnya dibereskan oleh Jessica sehingga kesan brutal dari si hantu berkurang…hanya mampu membunuh satu korban saja…

Pada akhirnya, menonton film ini, bukan cerita seru, efek mencengangkan, atau adegan menyeramkan yang saya dapatkan, memang ada pesan moral yang bagus dimana kalau kita menikah sebaiknya harus jujur pada pasangan sebab pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, bila dimulai dengan kebohongan maka akan berakhir tidak baik. Namun sebagai film horor, film ini lebih banyak menawarkan pemandangan indah, baik pemandangan pantainya juga gadis-gadis bertubuh sintalnya…jadi bila ingin mencuci mata saat nonton horror silakan memilih Bidadari Pulau Hantu.