Saturday, July 23, 2016

KREATOR SAINS-FIKSI + HORROR BUKAN HANYA J.J ABRAMS


Minggu ini film Star Trek Beyond sedang diputar di bioskop-bioskop seluruh tanah air dan banyak fans Sains-Fiksi, khususnya Star Trek, mengantri buat menonton, termasuk gue tentunya. Film yang bagus dan penuh efek animasi, tapi yang menarik buat gue saat mau menulis tentang film ini bukan jalan ceritanya melainkan produsernya, J.J Abrams.

Sebelum Star Trek Beyond tayang, bulan Mei 2016 lalu film J.J Abrams yang lain juga sudah tayang di Indonesia, 10 Cloverfield Lane, yang kebetulan juga merupakan film terakhir yang gue tulis di blog ini. Menariknya 10 Cloverfield berbeda dari Star Trek yang bergenre Sains-Fiksi, karena film sebelumnya lebih ke horror (meskipun nuansa Sains-Fiksi tetap tidak bisa dilepaskan).    

Meskipun kedua film itu berbeda, apa yang dilakukan Mr. Abrams menjadi jawaban bahwa setiap manusia…siapapun, tak tergantung dari suku, ras, atau agama apapun…menyadari adanya kehidupan dan kekuatan lain diluar dirinya… sesuatu yang ditakuti sekaligus disukai karena semakin misterius, hal itu makin mengundang rasa ingin tahu.

Jadi kemungkinan besar seseorang yang tergila-gila horror juga menyukai Sains-Fiksi. Horror mengeksplorasi kehidupan dan kemisteriusan dunia supranatural sementara Sains-Fiksi mengeksplorasi kehidupan dan kemisteriusan dunia di galaksi lain atau yang bersifat ilmiah. Dua buah dunia yang sama-sama belum dapat dijamah dan diterjemahkan dengan baik oleh manusia selain dengan apa yang kita sebut Iman.

Dan ternyata bukan hanya J.J Abrams yang membuat film dari dua genre berbeda – yang sebenarnya berhubungan bertolak dari landasan yang gue kemukakan sebelumnya – ternyata ada 8 kreator film setipe, diantaranya :

1.       STEVEN SPIELBERG 
Tidak ada yang memungkiri bahwa sutradara dan produser yang satu ini merupakan pria paling imajinatif di dunia. Puluhan film sains-fiksi keren sudah dituangkan seperti Close Encounter of The Third Kind (1977), E.T The Extra Terrestrial (1982), Inner Space (1987), Jurassic Park (1993), Minority Report (2002), War of The Worlds (2005), Super 8 (2011) tapi film-film horror yang dia buat juga tidak kalah keren dan meledak seperti Something Evil (1972), Jaws (1975), Poltergeist (1982), Twilight Zone The Movie (1983).

2.       SAM RAIMI
Pria yang lahir di Michigan tanggal 23 Oktober 1959 ini juga termasuk dalam kategori sutradara yang membuat film bergenre sci-fi dan horror. Film horror Sam terbilang lebih banyak dan lebih dikenal pemirsa film Indonesia seperti The Evil Dead (1981), Evil Dead 2 (1987), The Grudge (2004), Boogeyman (2005),The Grudge 2 (2006), The Possession (2007), Boogeyman 2 (2008), Boogeyman 3 (2009), The Grudge 3 (2009), dan Poltergeist (2015). Sementara film sains- fiksinya meskipun tidak banyak tapi juga ikut beredar di Indonesia, diantaranya Dark Man (1990) dan Time Cop (1994).

3.       JOE DANTE
Pria kelahiran New Jersey, 28 November 1946 ini tidak bisa melepas kecintaannya akan film horror dan science fiction meskipun ayahnya yang sangat terkenal di era 70-80 sebagai pemain golf professional, yang juga menulis banyak buku pelatihan cara bermain golf, berusaha membuat Dante sebagai pemain golf. Akhirnya Dante berkarir sebagai sutradara yang menelurkan film horror The Howling (1981), Twilight Zone The Movie (1983), Burying The Ex (2014) sementara film sains-fiksinya  Explorers (1985), Innerspace (1987), The Warlords: Battle for The Galaxy (1998).

4.       GUILLERMO DEL TORO
Sebagai seorang Mexico, Del Toro sangat terpengaruh dengan legenda-legenda urban seram dari Spanyol dimana ini bisa terlihat dari film horornya The Devil’s Backbone (2001) dan Pan’s Labyrinth (2006), Don’t Be Afraid of The Dark (2010) namun Del Toro juga mempunyai rasa ketertarikan akan dunia sains-fiksi dan masa depan dimana keberadaan manusia terancam oleh monster dan cara mengatasinya hanya dengan membuat robot petarung dalam Pacific Rim (2013)

5.       JOHN CARPENTER
Dikenal sebagai sutradara dan produser sci-fi dan horror di era 70-80, John Carpenter yang lahir 16 Januari 1948 di New York ini telah membuat film-film sains-fiksi beken seperti Dark Star (1974), Escape From New York (1981), The Thing (1982), Starman (1984), Black Moon Rising (1986), Memoirs of an Invisible Man (1987), dan Escape From L.A (1996) sementara film horornya yang terkenal juga banyak diantaranya Halloween (1978), Christine (1983), Prince Of Darkness (1987), Village of The Damned (1994), dan Helloween Resurrection (2002).

6.       TERENCE FISHER 
Dibesarkan oleh sang nenek di lingkungan ilmuwan Kristen yang kolot di Inggris membuat Fisher sangat kritis pada segala sesuatu. Berbagai artikel ilmiah dilahap dan dieksplorasi sehingga akhirnya terwujud menjadi cerita-cerita keren di film horor klasik seperti The Curse of Frankenstein (1957), Dracula (1958), The Mummy (1959), The Curse of The Wolves (1961), The Man Who Could Cheat Dead (1961), The Horror Of It All (1964) sementara film sains-fiksinya adalah Spaceways (1953), Four Sided Triangle (1953), The Earth Dies Screaming (1964). Lewat film sains-fiksinya Fisher pernah menjadi nominator Hugo Awards.

7.       STANLEY KUBRICK
Tokoh yang satu ini termasuk mempunyai genre yang luas dalam menghasilkan karyanya, dari drama hingga peperangan. Namun film horror dan sains-fiksi klasiknya merupakan legenda yang tidak tergeser dalam peta film bergenre keduanya, yakni The Shining (1980), The Shining Forward and Backward (2011), dan 2001: A Space Odyssey (1968).

8.       M. NIGHT SHYAMALAN 
Berkarier di dunia film sejak tahun 1992, pria berkebangsaan India ini pernah menjadi nominator Oscar dan Goldn Globe di tahun 1999 untuk filmnya Sixth Sense dan The Village pada tahun 2004 untuk Oscar. Citra horror dan misteri tentu melekat dengan namanya setelah dia merilis film-film horror yang mengundang perhatian dunia seperti The Sixth Sense (1999), The Village (2004), Lady In The Water (2006), The Happening (2008), dan Devil (2011). Di sisi lain dia juga tertarik dengan dunia sains-fiksi yang diwujudkannya dalam film The Sign (2002) dan After Earth (2013).


Jadi rasanya tidak perlu takut untuk mengekpansi wilayah imajinasi kita, bukan begitu?

No comments:

Post a Comment