Friday, May 5, 2017

NAMAKU NANDO, INGATLAH AKU…(BAGIAN 1)

Masih dikuasai kantuk, kantuk yang menyerang tak tertahankan ketika hubungan terakhir yang kulakukan semalam adalah bicara dengan anakku yang sedang liburan di Jerman, tengah malam disini sama dengan sore hari waktu disana, dan setelah itu tenggelam dalam kalimat demi kalimat...kantuk gara-gara begadang menyelesaikan tulisan buat blog

TRRRTTTTT….TTTRTTTT…

Aku terbangun saat ponsel sialan yang lupa kumatikan sebelum tertidur itu bergetar-getar tak karuan. 

Aku mengerutkan kening karena tidak mengenali nomor ponsel di layar, tapi tidak mungkin yang menelepon para sales kartu kredit atau asuransi karena mereka tidak serajin itu menelepon orang sepagi ini. Jadi kuangkat saja ponsel itu dan suara seseorang yang sudah lama tak kudengar menyambar di pengeras suara,

“Pagi, mas…sori nih, ganggu ya?”

“Ganggu sih soalnya gue lagi mau serangan fajar dan tahu-tahu denger suara elu…”

Si penelpon meledak dalam tawa, “Gokil loe mas… belum sempet buka celana, kan?”


“Nggak perlu gue foto dan kirim ke elu, kan?”

“Nggak usah, nggak nafsu juga gue lihat elu…”

“Siiaull…loe…” aku ikutan ketawa. “Betewe, siapa ini?”

Si penelepon langsung berhenti ketawa, “Ini beneran? Elu nggak tahu siapa gue?”

“Kagak! Nomor elu kagak tercantum di phone book gue.”

“Idih, setan gundul, padahal gue udah still yakin banget…asli elu nggak tahu siapa gue?”

“Gue tahu siapa elu, tapi ponsel gue yang nggak ngenalin elu. Elu siapo seh?”

Si penelepon ketawa lagi, “Garing lu mas!!!”

"Tumben loe da, telepon gue pagi-pagi gini. Ada apaan?” akhirnya aku mengakhiri gurauanku, juga dalam usaha mengumpulkan nyawaku yang masih berantakan di ranjang.

“Udah lama nggak ngobrol. Ketemu yuk…”

“Gue baru balik dari Padang.”

“Gue tahu, makanya gue mau ajakin elu ketemu…”

“Elu tahu kan maharnya?”

“Masih secangkir kopi?”

“Kopi hitam dan panas.”

Sore itu aku bertemu dengan si penelepon di salah satu café yang bertebaran di Blok M, dia sudah berada di tempat itu ketika aku menjejakkan kaki di dalam bangunan dan melhatnya duduk di meja paling pojok di sisi utara. 

Dia sendirian…selalu sendirian…aku tidak tahu kenapa padahal wajahnya yang baby face merupakan modal buat digila-gilai para cewek dan aku tahu beberapa penulis cewek yang naksir padanya…nyatanya dia masih tetap jomblo hingga saat ini. 

Pria itu nampak santai hari itu dengan kemeja denim dan celana jeans hitam, agak aneh juga mengingat dia seharusnya masih berada pada jam kantor dan tentunya memakai seragam dinas di waktu seperti ini.

“Halo, da!”

Dia mendongak dan tersenyum melihatku, “Hai, apa kabar mas?”

“Udah lama?”

“Nggak lah. Baru juga lima menit. Gue baru pesenin minuman elu.”

“Tepat waktu sebelum kopinya dingin,” aku berbinar melihat cangkir kopi yang tersaji di meja. “Gimana kabar teman-teman yang lain?”

Kami pun bertukar cerita mengenai kesibukan masing-masing. Mungkin lebih banyak aku yang bercerita tentang diriku dan apa yang kukerjakan, dan menjadi makin bersemangat ketika dia memuji novel komikku yang kurilis tahun kemarin. 

Sudah hampir dua tahun sepertinya kami tidak bertemu dan banyak hal yang terlewatkan sepanjang itu hingga akhirnya aku terhenti pada bagian ketika aku menceritakan pekerjaan yang kulakukan selama di Bukit Tinggi…

“Yeah, gue sudah baca tulisan elu di Freaknco.”

Aku menatapnya heran, “Seriusan?

“Yang Lobang Jepang itu kan?”
         
“Gue paham kalau elu pasti baca segala sesuatu soal kampung halaman elu. Tapi horor? Kan elu anti banget sama horor...”
                
“Yah, itu sialnya gue…gue baca tulisan teman-teman gue, yang lebih sialnya hampir semua teman penulis gue nulisnya horor. Elu, Oke, Lonyenk, Embart…”
                
“Nah, ini kabar gembira. Biar gue cerita sama yang lain, ah…”
                
“Jangan!” wajahnya berubah memelas. “Bisa ge-er gila mereka nanti. Betewe gue mau nanya soal cerita yang elu tulis itu…itu kisah beneran?”
                
Aku mengangkat bahu seraya menyesap kopiku, “Cerita itu gue tulis karena gue dapet mimpi aneh yang berulang-ulang waktu disana. Setelah gue menuliskannya sebagai cerita di blog, mimpi itu pergi.”
                
“Jadi elu nggak mimpi soal itu lagi?”
                
Aku menggeleng, “Nggak!”
                
“Apa itu…pertanda?”
                
“Pertanda apa?”
                
“Semacam pesan mungkin? Dari si Fandi ini?”
                
Aku tersenyum, “Namanya juga belum tentu Fandi…atau Siti, buat pemeran wanitanya…gue aja yang kasih nama itu buat karakternya. Yang gue lihat hanya serangkaian gambar-gambar adegan, jadi pria yang muncul di mimpi gue itu tidak ngasih tahu namanya.”
                
“Elu nggak pernah kepingin cari tahu apa yang elu mimpikan itu sesuatu yang nyata?”
                
“Kalau gue harus cari tahu apakah setiap kali gue mimpi itu sesuatu yang nyata kayaknya gue nggak ada kerjaan,deh,” aku menanggapi. “Gue pernah loh mimpiin elu married sama Rhein, apa gue harus cari tahu juga itu nyata apa nggak?”
                
Nando gelagepan, “Nggak usah. Karena itu horror!”
                
“Yang jelas Embart yang bakal ngakak gegulingan kalau itu bener kejadian,” aku menyeruput kopiku lagi. “Kenapa sih elu tiba-tiba tertarik sama cerita Lubang Jepang itu? Gue nerbitin novel ‘Yang Belum Mati di Jeruk Purut’ elu nggak pernah nanya apa cewek yang ketipu sama gerombolan pembuat film porno itu memang beneran ada.”
                
Nando menatapku lekat-lekat lalu menjawab lirih, “Ini mungkin terdengar gila tapi apa yang terjadi sama tokoh bernama Siti di cerita elu itu ada hubungannya sama Inyiak gue.”
                
“Inyiak? Kenapa memangnya sama nenek elu?”
                
Dia menceritakan kisah yang membuatku terbelalak, kisah yang disebutnya tidak pernah keluar dan diceritakan dari mulut sang nenek kepada siapapun di keluarganya selain kepada Nando, dan saat itu dia membaginya denganku. 

Nando mengakhiri ceritanya dengan pandangan penuh harap, “Gue yakin elu nggak kebetulan dapet mimpi itu dan menuliskannya. Takdir pasti sudah menentukan kalau gue akan membaca cerita elu. Maka dari itu elu mau kan menemani gue kesana?”
                
Aku mengerutkan kening, “Kesana? Kenapa nggak elu sendirian aja kesana kalau memang elu yakin?”
                
“Karena elu adalah penghubung kisah ini dan gue nggak yakin bisa menemukannya kalau elu nggak ikut, mas!”
                
Pertemuan dengan Nando kuakhiri dengan menggantung karena aku tidak tertarik dengan ide sintingnya. Tetapi kawanku itu orang yang sangat sabar dalam membujuk orang sehingga akhirnya aku menyerah. 

Sesuatu yang tadinya kusangka sebagai ide fantasinya ternyata berakhir dengan keberadaan diriku dalam pesawat terbang, duduk bersebelahan dengannya dalam penerbangan sore hari, dikelilingi awan mendung yang pekat terlihat dari balik jendela pesawat. 

Nando selalu bisa membuatku terkaget-kaget tapi mau bagaimana lagi kalau perjalanan ini sudah dibayari tiketnya oleh dia. Ini persis yang kualami pada masa awal-awal berkenalan dengannya.
                
Aku berkenalan dengan Nando ketika teman penulisku, Mpok Mercy, mengajak gabung ke Café di Blok M, dimana disana sedang nongkrong penulis-penulis yang lagi brainstorming buat bikin proyek bareng. Nando salah satu yang hadir disana dan aku pernah dengar namanya diantara penulis lain karena pernah membaca beberapa cerpennya di majalah.

Waktu itu aku masih belum menerbitkan satu novel pun meski sudah punya beberapa naskah dalam laptop, tapi sikapnya sangat rendah hati ketika berkenalan denganku, tidak menganggap pengalamannya yang sudah menahun dalam menulis itu sebagai sesuatu yang bikin dadanya membusung. Berikutnya, tiga hari berselang setelah pertemuan itu dia menghubungiku dan mengajak nongkrong bareng. 

Sebagai introvert aku jarang mengajak orang asing yang baru pertama kali bertemu buat nongkrong bareng, aku biasanya menunggu pertemuan ketiga atau keempat dengan seseorang sebelum bisa memutuskan untuk hang out dengannya, tetapi Nando melakukannya dengan kecepatan gigi lima dan meski kurang nyaman pada mulanya tetapi itu merupakan awal dari hubunganku dengannya sampai hari ini.
                
Tiga jam kemudian kami menjejakkan kaki di kota Padang, tadinya aku kira dia akan mengajakku menginap lebih dulu tapi ternyata kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi dengan mobil umum yang mengantar kami melewati Lembah Anai yang berkelok-kelok diantara gelapnya malam. Adzan sudah lama berlalu sejak mobil kami mengawali perjalanannya di Padang, aku menatap tegang pada kelokan dan jurang tak terlihat yang siap mengancam menggulingkan mobil bila bila supir mengalami kelalaian.
                
Selama bertugas di Bukit Tinggi aku belum pernah melewati Lembah Anai di waktu selarut ini. Jam tujuh malam adalah waktu termalam yang pernah kutempuh untuk pulang pergi Padang-Bukit Tinggi, tapi dengan mobil carteran yang pengemudinya sudah dikenal Nando ini sepertinya sang supir tidak ada masalah dengan waktu, seperti halnya supir-supir umum lain.

Dan supir ini nampaknya mengenal wilayah ini dengan baik sehingga meski melewati deretan mobil dari arah berlawanan, yang lampunya juga menyilaukan, dia melewati jalanan dengan santai diiringi musik melayu yang dipasang keras sekali di loud speaker.

“Lobang Jepang…” desis Nando yang membuyarkan lamunanku. Matanya memancarkan semangat yang membara. “Hayuk turun mas.”
                
Nando memberitahu supir untuk meninggalkan kami setelah membayar ongkos perjalanan. Aku menatap tak percaya pada gerbang di hadapanku…memang itu yang tertulis disana Taman Wisata Panorama…pada siang hari taman ini menghadirkan panorama Ngarai Sihanok yang cantik, tapi saat ini hanya lampu-lampu temaram dan pepohonan muram yang dapat kupandang…

Taman Wisata Panorama adalah tempat pertama yang harus kami lewati karena di bawah taman inilah terdapat Lobang Jepang…dan aku buru-buru menyalakan senterku melihat Nando sudah lebih dulu berjalan melewati pagar dan masuk ke dalam taman tersebut… 

Penulisnya mau jeda dulu...terengah-engah...sebelum nyambung ke BAGIAN 2

No comments:

Post a Comment