Saturday, May 6, 2017

NAMAKU NANDO, INGATLAH AKU...(BAGIAN 2)

Jantungku berdegup kencang…nafasku memburu…dadaku turun-naik dengan berat, seperti ada sesuatu menekan dari dalam dan hendak melompat keluar ketika aku berdiri di depan lobang itu. 

Lubang yang menganga bagaikan mulut seekor naga besar yang tengah tertidur dan siap mengatup dan menelanku ketika dia terjaga, hanya kegelapan yang ada di balik sana, sementara kesiut angin yang menari-nari makin membuat tulangku terasa ngilu.
                
Mendadak aku ingat akan mimpiku…tentang bagaimana si tokoh berdiri di muka gue ini, sama seperti yang sedang kulakukan sekarang, merasakan suhu yang dingin dan menahannya sekuat tenaga dan bagaimana aku juga makin merapatkan jaket ke tubuh sembari menyisirkan senter berkeliling dan berharap tidak ada yang melihat kami menerobos masuk Taman Wisata…
                
Nando berdiri disampingku, terpaku, dengan senter mengarah ke mulut gua, “Waktu kecil gue pikir gua ini sebuah gua raksasa. Lucu, seiring waktu gua ini tak lagi sebesar yang gue pikirkan sewaktu anak-anak, meski begitu ada satu pemikiran yang tetap tentang gua ini.”
                
“Apa itu?”

                
“Ada labirin di dalam sana. Kita bisa tersesat bila tidak mengingat jalan.”
                
“Bukannya memang itu maksudnya? Supaya musuh yang masuk tidak mudah menemukan mereka yang bersembunyi di dalam, apalagi jaman dulu pasti belum ada papan denah.”
                
“Dan setelah tersesat kita akan bertemu makluk mengerikan…monster berkepala banteng yang akan memakanmu…”
                
“Centaurus dalam labirin Daedalus?” aku berkomentar. “Apakah itu tidak berlebihan?”
                
“Nggak, buat anak kecil,” Nando menyahut. “Tapi bila kita bisa lolos dari makluk itu dan keluar dari gua hidup-hidup, itu berarti kita berhasil mengalahkan maut.”
                
Aku cuma mengangguk-angguk, “Mudah-mudahan kita tidak ketemu Centaurus di dalam sana.”
                
“Nggak mungkinlah,” Nando tersenyum. “Yang gue ngeri malah ketemu sama hantu-hantu di tulisan elu.”
                
Mengingat mimpi buruk itu bulu kudukku berdiri, “Nggak lucu, ah!”
                
“Katanya elu penulis horor, kenapa malah elu yang ngeri?”
                
“Gue nggak nyangka aja ternyata orang yang nggak demen baca horor malah kepingin masuk ke tempat beginian…malam-malam begini lagi…”
                
Kami menapaki tangga lubang yang mengantar kami jauh ke bawah, dingin yang ada di sekeliling jauh lebih lembab dari yang terasa dari udara luar. 

Bayangan akan lelaki yang menegakkan tubuh dan memutar kepalanya seratus delapan puluh derajad, kemudian berjalan dengan posisi melengkung yang ganjil bersliweran di benak…dan aku memaki-maki dalam hati pada Nando yang mengingatkanku pada makluk itu.

Ruang-ruang berjeruji merupakan pemandangan yang menanti begitu kami berada di bagian berikut. Aku tidak ingin berusaha mendengarkan apapun selain langkah kaki sepatu kami yang mengetuk di lantai batu. 

Nando sama tegangnya denganku, terlihat mulutnya berkomat-kamit, tapi dia tidak mengucapkan sepatah katapun karena bagaimana pun dia yang mengajakku ke tempat ini. Tidak lucu rasanya kalau dia terlihat takut di depanku, mungkin aku akan lari meninggalkannya seketika itu juga.

Aku tahu kemana langkah kami menuju…Nando membawaku ke ruangan yang berada paling dalam dari tempat ini…ruang penjara…aku tidak merasakan ini sewaktu pertama kali mengunjungi tempat ini…waktu itu siang hari dan hanya ada kemuraman saja…kini terasa ada suatu kabut kasat mata yang menghimpit di sekeliling…rasanya seperti aku sedang masuk ke dalam kolam air tak terlihat dan membuatku nyaris kehilangan nafas…

Terima kasih Tuhan karena kami tidak bertemu Centaurus atau pun hal-hal aneh yang ada dalam mimpi atau tulisanku, sementara kami terus berjalan hingga tiba ke tempat yang kami tuju. Di depan sana jeruji penjara berdiri kukuh seakan menantang kami untuk masuk. 

Namun yang menghalangi kami adalah sebuah gembok yang terpasang pada selot. Gembok yang aku ingat persis terpasang disana ketika aku berkunjung, pun yang nampak pada mimpiku, gembok berkarat yang tidak memungkinkan Nano untuk masuk melaksanakan rencananya…

“Lihat kan? Kita nggak mungkin masuk,” kataku memandang senang pada Nando.

Tapi aku salah perhitungan karena Nando mengeluarkan sesuatu dari kotak yang sepanjang perjalanan tersimpan di kantung celananya...benda itu ternyata sebuah kunci…dan aku memandangi dengan tak percaya, “Jangan bilang kalau itu kuncinya…”

“Kita coba saja,” ujar Nando.

Dan sialnya, kunci itu masuk dengan presisi yang tak terbantahkan. Aku menghela nafas ketika gembok berkarat itu membuka dengan mudah begitu Nando memutar anak kunci. Karat yang menipu, buat apa juga dia ada disana kalau tidak bisa menghalangi kunci Nando untuk membuka gemboknya. 

Temanku bergumam senang ketika membuka pintu penjara yang berderit kencang karena kurang minyak, “Ternyata memang benar.”

“Darimana elu dapet kunci itu, da?”

“Inyiak…”

Aku semakin memahami apa yang terjadi sementara pada saat bersamaan berusaha membantah kenyataan, “Bagaimana kalau teorimu nggak benar?”
              
“Berarti kita langsung pulang.”
                
Diam-diam aku bernafas lega karena dia masih berpikiran waras, “Benar ya…langsung pulang.”
                
“Iya…”
                
Kami melewati jeruji besi dan masuk ke ruang penjara. Ruangan itu berukuran tiga kali empat meter, dikelilingi konstruksi perulangan berupa beton serta bebatuan, senter kami terpantul pada dinding solid yang membentang sepanjang bagian akhir dari ruangan tersebut. Nando nampak kecewa, dia mendekati dinding itu dan meraba-raba, aku berdiri dengan menyorotkan senterku kepadanya.
                
“Apa sih yang elu cari?”
                
“Di tulisan elu kan bilang si Fandi menyorotkan senternya jauh ke dalam penjara ini  karena dia tidak menemukan ujungnya, kan?”
                
“Apa elu pikir ada semacam jalan rahasia?”
                
“Siapa tahu,” jawab Nando. Setelah mencari beberapa waktu akhirnya dia menyerah lalu menoleh padaku. “Masa cuma dinding yang kita temui?”
                
“Memangnya apa yang elu harapkan dari sebuah penjara?” aku bertanya balik. "Sudah seharusnya tempat ini dikelilingi dinding."
                
“Apa nggak ada semacam tombol rahasia atau kata-kata yang harus diucapkan supaya dindingnya bisa terbuka?”
                
Aku mengangkat alis keheranan, “Memangnya ini gua Aladin?”
                
“Ayolah, mas! Apa nggak ada sesuatu yang elu ingat dari mimpi elu yang bisa menghubungkan kita ke masa orang-orang Jepang itu membawa Fandi?”
                
Aku menggeleng, “Sorry…”
                
Nando menghela nafas, ekspresinya makin kecewa, “Sepertinya ini memang jalan buntu…” dia menatap sekali lagi pada dinding penjara. “…kalau begitu kita pulang sekarang.”
                
Aku melewati jeruji penjara dan Nando sedang berusaha mengembalikan gemboknya ketika aku menyadari sosok itu dalam kegelapan. Sosok itu berdiri mematung…di tengah-tengah lorong yang menghubungkan bagian ini ke ruang utama dimana terdapat barak-barak…tanganku gemetaran ketika menggambit bahu Nando, “Men, ada orang di lorong itu…”
                
“Orang?” Nando ikutan menoleh, sama sepertiku dia terkejut bukan kepalang. “Darimana dia datang?”
                
Sosok itu berdiri mematung dengan tubuh tegap, tingginya tidak lebih tinggi dariku, kepala menunduk menadang tanah, dan di balik temaramnya cahaya di lorong itu aku melihat pria itu memakai seragam tentara Jepang abad dua puluh yang berwarna kecoklatan, lengkap dengan topi yang memiliki terusan penutup di bagian belakang kepala. 

Kedua tangannya menelungkup pinggang sebelah kanan. Dengan gerakan perlahan sosok itu menarik sesuatu dari pinggangnya…sesuatu yang terdengar seperti logam dari desingannya saat bergeser keluar…benda itu diangkatnya ke udara, panjang dan melengkung…sebilah samurai…
                
“Makluk ini nggak ada di mimpi elu, mas?” Nando berbisik padaku.
                
“Nggak ada!”
                
“Apa yang harus kita lakukan?”
                
Aku tidak tahu…benar-benar tidak tahu…bagaimana kalau khayalan masa kecil Nando ternyata benar? Bahwa di dalam lorong itu merupakan labirin dan kami baru saja bertemu monster ‘Centaurus’ yang ditakutinya?
                
Sosok itu mendekati kami dengan perlahan, dia sengaja menggesekkan samurainya ke dinding batu sehingga menimbulkan decit memekakan telinga untuk meneror kami berdua, sesekali terihat percikan api dari gesekan senjatanya sementara dia melangkah dengan kepala tertunduk. Dengan kenekadan yang entah kudapat darimana aku menyorotkan senter ke arah sosok itu dan aku memekik mendapati tengkorak tanpa wajah di bawah topinya.
                
Sosok itu kaget gara-gara sinar menyilaukan yang keluar dari senterku, spontan dia mengangkat tangannya untuk menutupi wajah, kibasan tangannya tanpa sengaja membuat topinya terjatuh hingga menampakkan bagian atas tengkoraknya yang terbelah dan hanya berupa gumpalan daging penuh kerut berkedut-kedut. 

Makluk aneh itu meneriakkan umpatan dalam bahasa yang tak kumengerti. Dengan tetap melintangkan tangan di depan wajah dia berlari sementara samurainya terayun-ayun menggila.
                
“Dia hendak membunuh kita,” kata Nando dengan suara tercekat.
                
“Kita harus lari…”
                
“Kemana? Dia menghalangi jalan kita…”
                
Tanpa pikir panjang aku membuka jeruji penjara yang baru saja hendak ditutup Nando. Untung saja dia belum sempat mengunci gemboknya sehingga pintu itu terbuka dengan cepat. Aku menarik bahu Nando untuk mengikutiku, “Cepat masuk…”
                
Kami menghindar tepat pada waktunya, samurai si tentara Jepang melayang dan menghantam pagar penjara beberapa detik setelah kami menutupnya. Jeruji itu bergetar hebat disertai denging yang nyaris menulikan gendang telinga. 

Kami berusaha mencegah makluk itu mendekat dengan menyorotkan senter kami tapi amukan yang lebih hebat membuat makluk itu tidak mempedulikan halangan tersebut. Dia mengguncangkan jeruji pagar hingga membuka lalu ikut masuk ke dalam.
                
Keanehan pun terjadi ketika dirinya berada dalam penjara…      
                
Tengkorak yang ada di wajahnya berubah menjadi penuh…terisi potongan daging kemerahan, lalu serat-serat otot, diikuti kulit yang menyatu dengan cepat…batok kepala yang terputus di bagian atas kepalanya pun menyambung dan menumbuhkan helai-helai rambut yang makin memanjang. Begitu pula halnya yang terjadi dengan tulang jemari tangannya yang menggenggam samurai.

Di saat perubahan yang sedang terjadi pintu penjara menutup dengan hempasan keras, kami terjebak di dalam situ, aku mundur perlahan sembari menyapukan pandangan berkeliling untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. 

Saat itu dinding yang seharusnya berada di belakang punggungku tak lagi terasa…aku melangkah lebih jauh dari jarak tiga meter yang seharusnya…ketika menengok ke belakang aku terpana karena yang ada disana adalah terowongan luas…sebuah ruangan terusan yang tidak ada sebelumnya…

“Uda…” aku berseru pada Nando.

Nando melihat terowongan itu dan ikut takjub, “Apa gue bilang? Sudah gue duga…”

Aku tidak punya waktu mengiyakan kegirangannya karena saat itu ada hal yang lebih genting, mempertahankan nyawa kami, “Lari! Dia mau bunuh kita…”

Kami lari terbirit-birit, memanfaatkan waktu dimana makluk itu tengah membeku dalam ‘pemulihan’nya, rupanya kehadiran kami menarik perhatian puluhan pria bercawat yang tengah menggali terowongan…puluhan mata berhenti dari pekerjaannya dan memandang kami berdua…di belakang terdengar ketukan langkah berlari mengejar kami. 

Aku berpaling sejenak, ternyata sosok tentara jepang bersamurai itu memang tengah memburu kami…berteriak-teriak dalam bahasa asing…tetapi apa yang diperintahkannya tak membuat orang-orang disitu melakukan apapun kepada kami sehingga dia makin marah.

“Terus, mas…” seru Nando.

“Kemana?” aku balik berteriak.

“Kanan…” dia menjawab sehingga aku mengikutinya.

Langkah kami terhenti karena ruangan yang kami masuki ternyata ruang makan, dan pada saat itu sepuluh tentara Jepang sedang makan-makan sembari menenggak sake. Menyadari kedatangan kami mereka semua berdiri dengan samurai terhunus, semakin waspada begitu tentara yang mengejar tiba di ruangan.

“Sial!” maki Nando.

“Ada ide lain?” aku bertanya.

“Menyerah dan angkat tangan?” Nando berbisik balik.

Seorang pria yang nampaknya berpangkat lebih tinggi dari yang lain mendengarkan ucapan tentara yang mengejar kami dari lorong, dia lalu memerintahkan orang itu diam kemudian mendekati kami, “Bagaimana kalian bisa masuk kemari?”

Ajaib, ternyata dia bisa berbahasa Indonesia, aku menjawab, “Lewat penjara itu tentunya…”

Pria itu memandangi kami tajam dari atas ke bawah. Tiba-tiba dia menampar pipiku sehingga aku ternganga kesakitan dan bersamaan dengan itu tangannya dengan cepat masuk ke dalam mulutku lalu memeriksa bagian dalamnya laksana seorang dokter hewan sedang memeriksa mulut kuda nil. 

Dia lalu melakukan hal serupa pada Nando, tapi tanpa mendapat tamparan tentunya karena temanku itu dengan rela hati membuka mulutnya sendiri begitu melihat apa yang terjadi padaku.

Para tentara Jepang melucuti pakaian kami, meninggalkan hanya cawat pada tubuh kami dan menarik kami untuk bergabung dalam kumpulan pekerja yang sibuk menggali terowongan. Pacul di tangan, di saat bersamaan di dekat kami ada seorang pria bertampang gahar dengan pecut yang siap dilayangkan, mau tidak mau aku dan Nando ikut menggali…sesuatu yang tak pernah terbayangkan olehku…

“Apa ini sesuai rencana elu?” aku berkata seraya menggali.

“Nggak sama sekali.”

“Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita sepertinya terjebak disini…”

“Sepertinya begitu…”

“Hey,” aku mencengkeram lengan Nando dengan kesal. “Disini mimpi gue berakhir. Seharusnya ini bukan berakhir seperti ini. Apa elu tidak punya rencana dari yang diceritakan nenek elu?”

“Kita harus mencari gadis itu dan setelah itu melarikan diri…”

“Gadis mana? Melarikan diri bagaimana?” aku makin memburunya dengan pertanyaan karena sama sekali tak memahami ucapannya, sayangnya tentara yang mengawasi budak melihatku mengobrol dan tidak tanggung-tanggung detik berikutnya cambuknya menghantam punggungku yang telanjang.

“Bakayaro!” dia memaki. “Diam! Kerja!”

Baru saat itu aku merasakan sakitnya dihantam cambuk macam itu, setelah berdiri dengan terhuyung-huyung aku melanjutkan pekerjaan menggali dalam diam….menahan kebingungan yang menuntut jawaban serta rasa nyeri yang membakar punggung dengan hebatnya…

Menggali itu pekerjaan sederhana. Tidak butuh pemikiran yang sulit saat melakukannya, cukup tancapkan mata cangkul ke tanah lalu singkirkan tanah ke samping, di saat bersamaan orang yang di belakangku menyingkirkan tanahnya ke gerobak yang sudah menanti. 

Intensitas dan kontinuitasnya yang bikin kekuatan fisik perlahan menurun, dan rasanya sudah ribuan kali hantaman baru si ‘mandor’ menyuruh kami berhenti dan kami semua diperbolehkan duduk sejenak selagi makanan berupa nasi perak dan kangkung dibagikan ke batok kelapa yang menjadi piring untuk makan.

“Ajaib bukan?” Nando berbisik saat mengunyah makanannya. “Makanan seperti ini saja terasa enak di saat tubuh capek sehabis kerja fisik.”

Aku kesal karena sepertinya dia menikmati momen ini, padahal Nando biasanya paling rewel soal bau keringat atau tubuh yang lengket berdebu, “Jadi apa elu mau tinggal disini selamanya?”

Nando memandangku lalu mengangkat bahu, “Mungkin tidak buruk selagi kita dapat makan setelah kerja keras. Kadang-kadang ketidakadilan itu kan yang kita rasakan dengan menulis buku?”

Aku paham maksudnya, ratusan jam yang kugunakan buat menulis suatu naskah belum tentu mendatangkan hasil sesuai harapan, kadang aku masih sering meminjam duit untuk makan hanya gara-gara penerbit terlambat membayar royalti karena belum mendapat pengembalian penuh dari toko buku atau menunggu pembayaran dari penulisan iklan di medsos karena molornya prosedur keuangan. 

“Tapi ini romusha, da! Kita jadi budak!” aku berkilah.

“Budak itu hanya ada disini,” Nando mengetuk-ngetuk keningnya. “Bagaimana kalau gue bilang saat ini gue sedang masuk dalam sejarah, karena gue sedang membantu membangun sesuatu yang bikin kagum di masa kita. Jujur, pasti muncul pertanyaan kan di pikiran elu bagaimana Jepang yang hanya tiga setengah tahun menjajah kita bisa bikin gua persembunyian yang hampir mencakup satu kota Bukit Tinggi?”

“Memang itu sempat terpikirkan…”

“Ini jawaban elu,” Nando melayangkan tangannya kepada pria-pria bercawat yang tengah menikmati makanan mereka. “Mereka inilah pembuat sejarah itu. Meski menyakitkan tapi kami tahu yang kami kerjakan sekarang akan terpatri untuk waktu lama. Kamu tahu yang kuingini dalam hidup mas?”

“Apa?”

“Bila meninggal nanti gue akan berada di kapal itu menuju bintang-bintang dan saat menengok ke bawah gue bisa melihat hasil pekerjaan yang gue tinggalkan di bumi.”

Aku menahan gelak tawa dan ganti mengetuk-ngetuk kening dengan telunjuk, “Sekarang gue yakin elu sudah sinting. Gimana kita bisa lari dari sini?”

“Seberapa besar elu mau lari dari sini?” tanya Nando.

“Sangat..sangat…sangat…”

“Kalau begitu menyanyi sama gue yaa…”

“Nyanyi?” gue berkata keheranan.

Nando nyengir jenaka lalu mulai bersenandung,“Doshite…doshite…naite umarete…itsuka nagarete hoshi ni natte iku ndarou…

“Sejak kapan elu bisa bahasa Jepang?”

Nando terus menyanyi, “Ayo, lama-lama elu pasti hafal liriknya...”

Bokura wa doshite? Doshite?
Osowattenainoni
Namida no nagashi-kata o shitteru ndarou…
Kokorokara karada e, karada wa kokoro e
Tsurunaru ikutsu mono
Karamiatta rasen no moyo…

Nando tersenyum saat aku menyanyi mengikutinya, wajahnya bersemangat, dan nyanyian kami pun makin keras sehingga menarik perhatian orang-orang pribumi di sekeliling kami, beberapa mulai melempari kami dengan sisa nasi atau sayur karena sepertinya mereka menyadari bahasa kami yang mirip dengan bahasa para tentara yang menyiksa mereka.

Tapi kami tidak peduli…terus menyanyi…hingga mandor yang mendengar nyanyian terkejut mendengar lirik lagu kami. Aku bisa melihat ekspresinya yang memahami apa yang kami ucapkan meskipun aku sendiri tidak tahu apa itu…

Dia menarik kami dari kerumunan dengan melecutkan cambuknya sebagai tanda agar orang-orang berhenti melempari kami. Dia mendorong-dorong kami kembali ke ruang makan dimana para tentara itu masih juga berkumpul disana, mereka tertawa-tawa sembari mengangkat cangkir sake. Sang mandor mengucapkan sesuatu dengan sesekali menunjuk-nunjuk kami dan memberikan jempolnya.

Sang pimpinan yang tadi memeriksa mulutku memandang tak percaya lalu menegur kami berdua, SĹŤdesu ka? So no baai, watashitachi no tame ni utai nasai.

Kami hanya berpandangan, tak mengerti apa ucapannya, tapi si mandor membuat gerakan seperti menyanyi sehingga akhirnya kami sadar untuk apa kami dibawa kemari. Sepertinya mereka tengah dalam sebuah pesta dan perlu artis untuk menghibur. Nando memandangku, “Ini akan menjadi malam yang panjang. Elu hafal syairnya?”

“Nyanyi saja keras-keras. Gue akan mengikuti…”

Para tentara itu memandang takjub dan kesenangan setelah kami menyanyikan lagu itu, memintanya untuk mengulanginya lagi, dan sekali lagi. Ketika mereka meminta lagu lain kami mengulanginya lagi tapi kali ini mengajari mereka untuk menyanyikannya bersama-sama dengan kami. Mau bagaimana lagi karena Nando hanya punya satu lagu itu yang dia hafal. 

Untunglah mereka sudah cukup mabuk dengan sake yang diminum berulang-ulang sebelum kami datang sebagai penyanyi sehingga di kali kelima kami menyanyikan lagu itu, disertai dengan rasa bosan, para tentara dan komandannya pun terkapar tak sadarkan diri di meja…

“Ayoo…” kata Nando setelah memastikan bahwa para tentara itu benar-benar tertidur oleh pengaruh alkohol. “Kita harus bergegas karena di tempat ini bukan hanya mereka ini saja tentaranya.”

Nando meraih tas kami yang untungnya masih tergeletak di meja dekat kaki si komandan, setelah itu dia mengajakku pergi ke tempat yang seingatku merupakan dapur umum. Beberapa gadis sedang bekerja di tempat itu, memasak sesuatu dalam kuali-kuali besar, rupanya dari sana jatah nasi dan tumis kangkung kami berasal, aku tidak tahu mereka sedang memasak untuk apalagi sebab waktu makan bagi para pekerja baru lewat sekitar setengah jam lalu…mungkin ini jatah makanan untuk pesta pora sang komandan.

“Pssst…” Nando berdesis kepada salah satu yang berada di dekat penumbuk padi.

Gadis itu menoleh dan memandang kebingungan saat melihat kami berdua, sedikit ragu-ragu ketika Nando melambaikan tangan sebagai isyarat agar gadis itu mendekat. Gadis itu bergeming, menahan diri di tempatnya, melongok bergantian antara ke arah para perempuan yang memasak di dapur atau kepada kami. Baru saat Nando menyebut namanya dia pun memutuskan menghampiri.

“Darimana kamu tahu namaku?” tanya gadis itu.

“Kamu mau bebas dari sini?” sela Nando tak sabar. “Ikut kami.”

Tanpa menunggu jawaban si gadis, Nando memegang tangannya lalu kami berdua berjingkat cepat meninggalkan dapur. Kami meninggalkan lorong utama menuju ke jalur dimana kami tadi berlari-lari dari penjara tanpa gangguan. 

Aku mengira semuanya akan baik-baik saja dan rencana Nando mengeluarkan kami dari sini akan berjalan mulus ketika tahu-tahu terdengar ledakan di belakang kami. Tembok yang berada dekat sekali di bahu kiriku pecah, menghamburkan kepingan yang panas ke bahuku, “LAAARRRIIII…”

Tembakan kedua berdentam tapi kami sudah keburu lari sheingga tembakan itu pun meleset. Tidak mudah bagi gadis itu untuk lari dengan kain yang melilit kakinya sehingga kami berdua nyaris menyeretnya supaya bisa melangkah lebih cepat. 

Teriakan-teriakan keras mulai terdengar bersahutan dari orang-orang yang mengejar kami, agaknya para tentara lain sudah menyadari ada tawanan yang hilang sehingga mereka melakukan pencarian dengan cepat demi mendapatkan kami.

Kami terus berlari dan berlari…rasanya seperti berada dalam labirin dan tidak akan menemukan jalan…aku tidak ingat kemana harus melangkah karena mengingat rute atau arah memang jadi kelemahanku. Pernah aku mencari-cari mobil yangh terpakir dalam tempat parkir mall yang baru sekali itu kukunjungi dan akibatnya aku tidak menemukan mobilku sampai petugas keamanan turun tangan. Pada saat ini, peran petugas keamanan itu ada pada Nando yang untungnya ingat kemana kami harus pergi.

Yang menganggu Nando bukanlah rute seperti yang kukuatirkan, melainkan gadis yang kami bawa. Dia tidak berhenti berteriak-teriak, minta supaya kami menurunkan dia dan meninggalkannya, dia pasti ketakutan pada tembakan-tembakan tentara Jepang tapi seharusnya dia menyadari kami juga merasakan hal yang sama. 

Kami berdua terus menariknya, meninggalkan gadis itu adalah pilihan yang tidak mungkin bagi Nando, dan kami melakukannya di bawah hujan peluru sampai tiba di pintu lorong yang terhubung dengan penjara.

Aku membuka jeruji penjara hingga terhempas keluar. Tanganku menarik gadis itu dan dia keluar melewati pintu penjara. Namun Nando melepaskan genggamannya. Dia membuang ranselnya ke arahku, menutup jeruji penjara, dan menggembok selotnya dari balik celah jeruji. Aku berteriak kalut, “NANDO…KELUAR…KELUAR….”

“Seseorang harus menahan mereka disini sampai kalian benar-benar bisa keluar dari gua,” sahut Nando tak mempedulikan ucapanku.

“Nggak…nggak…nggak harus begini…elu cari mati…” kataku menghantam jeruji dengan marah. Aku berusaha merebut kunci dari tangannya tapi dia mendorongku.

Nando berpaling pada gadis yang kami bawa, “Nando…” gadis itu terdiam memandangi temanku, air matanya meleleh saat Nando memberikan kunci gembok kepadanya. “Namaku Nando… ingatlah aku…”

Gadis itu mengangguk, “Aku akan mengingatmu…”

“Makasih, Inyiak…” Nando tersenyum dan setelah itu si gadis menghilang dari pandanganku. Ketika aku masih dikuasai oleh kekagetan Nando menatapku, “Elu sekarang pergi dari sini…”

Aku mengguncang jeruji itu, “Nggak! Gue nggak akan meninggalkan elu…”

“LAARRIII…” jeritan Nando terhenti karena popor senapan menghajar dagunya.

Aku kalap melihat Nando roboh dengan bibir pecah mengeluarkan darah. Dari balik jeruji aku berhasil menghajar perut tentara yang berusaha menjambak rambut temanku, tentara itu terhuyung ke belakang sembari memegangi perutnya. 

Namun teman-temannya yang berhasil menyusul mengarahkan senapannya kepadaku dan aku sadar bahwa aku tak boleh menyia-nyiakan nyawaku yang berusaha diselamatkan Nando…

“LAARRRIIII…” jerit Nando dalam usaha terakhirnya membuatku pergi sementara dua orang tentara menariknya menjauh dari pintu penjara. Dia tak perlu melakukannya lagi sebab aku menyambar tas kami dan terbirit-terbirit sementara para tentara itu memaki-maki seraya mengguncang-guncangkan jeruji penjara yang sudah dikunci dari luar oleh Nando beberapa menit sebelumnya.

***

Aku tidak tahu harus mengatakan apa…hanya saja rasanya semua jadi serba salah…

Meninggalkan Nando di tempat itu…

Tidak memberitahukan apapun ke keluarga Nandi soal musibah yang terjadi…

Aku memandangi tiket di tanganku. Aku menemukan tiket itu berada di dalam tas Nando. Rupanya dia sudah memesankan tiket pulang untukku ke Jakarta. Yang membuatku terpana karena hanya ada selembar tiket dalam amplop itu…selembar tiket bertuliskan namaku…seolah-olah Nando tidak merencanakan untuk pulang ke Jakarta setelah semua ini…

Apakah Nando tahu kalau dirinya tidak akan dapat keluar dengan selamat dari tempat itu? Atau apakah ini memang rencana bodohnya lagi menjadi pahlawan buatku?

Aku tidak perlu pahlawan…aku hanya perlu temanku berada di sisiku saat menunggu pesawat di ruang tunggu ini…pada saat itu ada pesan masuk ke ponselku…dari mpok mercy…



  
Aku membacanya antara rasa percaya dan tidak percaya…aku butuh beberapa menit untuk mencerna pesan yang kubaca…semua hal yang terjadi padaku dalam beberapa jam ini…semua misteri ini….sepertinya terlalu bertubi-tubi mendatangiku dan aku tidak sanggup menanganinya….jadi aku merespon singkat…




                               

                               
          
 Kuakhiri pembicaraan di teks begitu panggilan terakhir untuk pesawatku terdengar. Dengan gontai aku masuk ke kabin pesawat dimana beberapa mata menatapku dengan sebal, mungkin karena aku orang terakhir…juga yang terlambat masuk ke pesawat sehingga bikin molor jam take off pesawat berjadwal terakhir yang seharusnya sudah dilaksanakan lima menit sebelumnya…

Aku senang karena mendapat kursi tanpa teman di dua deretan sebelahnya, jadi aku nekad duduk dekat jendela setelah menaruh ransel ke bagasi yang ada di atas kepala, kenyamanan yang sungguh layak kudapatkan setelah melalui segala peristiwa misterius yang menegangkan syaraf dan tidak sampai lima menit pesawat pun tinggal landas.  

Kutatap layar monitor yang terpasang di kursi depanku. Belum pernah aku naik pesawat dengan fasilitas video atau pun lagu, lengkap dengan ear phone siap pakai yang ditaruh di kantung belakang, tapi ini pesawat dengan kelas premium inilah yang dipesankan Nando untuk kepulanganku ke Jakarta. 

Aku memasang ear phone dan mendengarkan video musik yang dimainkan pemutar. Membiarkan beberapa lagu berlalu sementara aku makin dikuasai kantuk hingga terdengar alunan nada ini…nada yang segera bikin mataku terbelalak…nada yang familiar di telinga…ini…ini lagu Nando….

Segera aku membaca judul lagunya, Hoshi no Utsuwa, soundtrack dari Naruto The Last Movie….aku menyimak syair Inggris yang merupakan terjemahan bahasa Jepangnya dan aku tertawa…tertawa sementara di saat bersamaan air mataku pun mengalir deras…air mata yang tertahan ketika aku kabur dari Lobang Jepang.

“Akhirnya gue mengerti semuanya, kawan…” aku mendesis.

Nando memang harus datang ke Lobang Jepang itu untuk menyelamatkan neneknya. Terbayang olehku bagaimana gadis itu di jamannya sudah berkumpul kembali dengan bahagia dan penuh haru pada keluarganya, dan beberapa tahun lagi siap untuk melahirkan keturunan yang nantinya akan melahirkan Nando...

Nando harus melakukan kegilaan ini, bila tidak maka tidak akan lahir seorang pria bernama Nando yang siap membantu teman-temannya dan memberi mereka senyuman hangat yang mendorong penulis-penulis lain lepas dari writer's block...dia harus melakukan ini untuk memberi kesempatan baginya menikmati kisah kehidupan meskipun itu harus diakhiri pada usia yang masih muda... 

Pada saat itu pandanganku tertumbuk ke luar jendela…sesuatu yang berpendar nampak berenang mengarungi langit malam…. benda itu sepertinya tengah mengikuti pesawat yang kutumpangi, mengerjap sejenak padaku bagaikan pria genit mengedipkan mata kepada gadis incarannya lalu mulai membumbung naik menuju deretan bintang di angkasa…

Aku melambaikan tangan, “Selamat jalan, kawan…hiduplah bersama bintang-bintang itu…”

Apakah kisah yang kualami bersamamu nyata? Apakah itu cuma khayalanku? Apapun itu, kuharap kamu, di tempatmu yang baru diantara bintang-bintang cantik itu, happy membaca kisah yang nantinya akan kutulis di blogku. Sementara musik terus mengalun di telinga, aku membiarkan air mataku membanjir….


Kokorokara karada e
 karada wa kokoro e
Tsurunaru ikutsu mono
Karamiatta rasen no moyo…

END 

No comments:

Post a Comment