Sunday, February 26, 2017

THE PREMIERE - BAB 1 (DEATHLINE)

”AAAAAAARRRRRHHHHH...."

Putri belum sempat menyalakan motor tempel yang ada di pantat perahu saat mendengar teriakan itu. Gadis itu menoleh, tak percaya melihat sepasang tangan Ninda yang kurus ceking mencengkeram leher Dicky dan mengangkat pria itu beberapa senti dari dasar perahu.

Lidah Dicky terjulur keluar sementara kakinya menendang-nendang, Putri celingukan mencari benda yan bisa dijadikan senjata. Matanya tertumbuk pada tongkat baseball di sebelah kanan kaki Ninda. Namun Ninda keburu menyadari tatapannya sehingga dia menginjak tongkat itu. 

Gerakan Putri yang kalah cepat membuatnya gagal mengambil tongkat padahal tangannya sudah menggenggam pegangan benda tersebut. Dicobanya buat menarik tongkat itu tapi dia tidak mampu menariknya dari bawah pijakan kaki Ninda.


Ninda memandanginya dengan angker. Matanya melotot, seakan siap menerkam bila Putri berbuat macam-macam. Saat itu Putri melihat sesuatu yang ada di balik perut Ninda yang hamil nampak memberontak ingin keluar. Tahu-tahu perut itu pecah berantakan. Sebuah kepala yang masih bermandikan darah segar keluar dari sana. Kepala itu bentuknya bulat telur, matanya masih tersimpan di dalam kantung matanya yang biru lebam, kulit wajahnya mengelupas disana-sini bagai terbakar, kepala aneh itu tidak punya hidung, sementara ukuran mulutnya terlalu lebar. 

Dari mulut yang lebar itu Putri melihat si bayi aneh memunculkan seringai jelek...seringai yang dari baliknya terlihat deretan gigi hitam dan gupis. Monster itu membuka mulutnya dan alih-alih menangis seperti bayi pada umumnya, makluk itu malah tertawa terkekeh-kekeh, suaranya yang besar dan jelek.

Gadis itu berbalik lalu menarik tali untuk menyalakan motor perahu. Hanya dalam hitungan detik baling-baling mesin berputar dengan raungan hebat. Hentakan motor membuat perahu tersentak, hidung perahu terangkat ke atas lalu menghujam ke bawah dengan cipratan air yang masuk hingga ke bagian dalam perahu. 

Gerakan yang mendadak itu membuat Ninda oleng, pijakannya melemah sehingga dia harus menahan bobot tubuhnya. Pada saat itu cengkeraman di leher Dicky sedikit mengendur dan pria itu menggunakan kesempatan sempit itu buat menendang perut Ninda..  

Bukannya melukai si bayi, makluk itu malah berhasil menggigit lutut Dicky yang dia gunakan buat menyerang. Gigi hitam dan gupis itu merobek kain celana jeans di bagian lutut Dicky. Terdengar suara kain robek saat pemuda itu menarik kakinya dengan keras ke belakang, menghindar sebentar agar lututnya tidak dua kali terkena incaran. Terdengar suara anak kecil mengiba dari sela mulut si bayi aneh, “Kamu menyakitiku, papa…”

Perahu bergerak membelah air dan lagi-lagi membuat Ninda oleng, suatu hentakan lain yang menyusul membuatnya jatuh telentang namun cekikan belum terlepas sepenuhnya dari leher Dicky. Jari-jemari Putri menghujam di leher Dicky bagaikan penjepit baja.

“LEPASKAN DIA…” Putri mengamuk.

Gadis itu membelokan tongkat kemudi mesin dengan brutal hingga berbelok ke kiri dalam sepersekian detik, bagian dasar perahu yang menggesek air terdengar berdecit. Ninda tidak bisa menguasai posisinya dan ia tercebur ke air, bersama Dicky.

Putri menjerit. Perahu karet menderum garang saat gadis itu memutar perahu untuk kembali ke tempat jatuhnya Dicky dan Ninda. Setibanya di tempat yang dituju, dia menghentikan laju perahunya kemudian memandang ke dalam air lalu memanggil-manggil sahabatnya, “DICKY…”

Yang nampak di permukaan laut hanya riak-riak gelombang, sebagian disebabkan oleh tendangan baling-baling motor.

“KELUAR DICKY…JANGAN MAIN-MAIN…”

Air mata Putri menetes pelan di pipinya…

”Keluar Dicky... atau aku yang membunuhmu.”

Lima belas meter dari tempatnya berada, sesosok kepala muncul dari dalam air. Sosok itu bukan hanya memanggil namanya tapi juga melambaikan tangan. Cepat-cepat diusapnya air mata lalu mengarahkan perahu menuju ke tempat itu. Dia tersenyum mendapati kepala yang mengapung-apung itu memang Dicky. Dia memanggil sekali lagi, “Putri…”

Putri menghentikan perahu. Gadis itu mengulurkan tangan buat menarik Dicky dari dalam air. Dia terlambat menyadari sesuatu yang tidak wajar dari sosok kepala tersebut. Kepala Dicky kelihatan terlalu mendongak, mulutnya menganga dalam posisi miring yang tidak wajar, sementara pupil matanya yang dipenuhi warna putih baru terlihat saat gadis itu sudah berada pada jarak yang dekat dengan sosok Dicky. Putri mengernyit melihat bayangan merah samar dari bawah air di belakang leher Dicky.

”KYYAAAAAA....”

Dia baru saja hendak menarik tangannya saat sesuatu menariknya, gadis itu berusaha mempertahankan diri agar tetap berada dalam perahu. Namun sesuatu yang menariknya dari bawah air itu memiliki kekuatan yang sulit dilawan sehingga tahu-tahu dia sudah tertarik dari perahu hingga sebatas perut

Sosok Ninda menyeruak dari belakang tubuh Dicky. Monster itu menghamburkan air ke mata Putri hingga membuatnya buta sesaat. Disertai raungan seram, makluk itu melemparkan dirinya ke udara dari dalam air. Tangannya yang terpentang lebar mengunci leher Putri dan menarik gadis itu ke bawah air. Keduanya meluncur keluar  perahu.

Putri panik, kakinya menendang-nendang air sementara Ninda mencekik lehernya. Gelembung udara berhamburan liar dari sela bibir Putri. Ditekuknya kedua kaki buat menendang dada Ninda dengan mengerahkan segenap tenaga yang tersisa. Seringai tolol di wajah Ninda berganti ekspresi kesakitan. Cekikan itu pun langsung mengendur.

Gadis itu berenang menjauh secepat mungkin hingga melintasi dasar perahu. Setelah berada di belakang perahu, Putri berpegangan di tepiannya dan memaksakan diri buat naik. Begitu mendarat di dasar perahu, dia berguling dan merebahkan diri sejenak untuk mengatur nafas yang tersengal...

Tapi saat itu dia melihat sesosok tangan menyembul dan berpegangan pada sisi kanan perahu. Putri segera meraih tongkat baseball yang tadi diinjak Ninda. Sebelum monster itu berhasil naik sepenuhnya ke atas perahu dia bahkan sudah berdiri dengan tongkat teracung, menunggu hingga sosok itu muncul dari air.

Begitu kepala monster itu terlihat di air, tanpa membuang-buang waktu gadis itu memukulkan tongkatnya. Kepala Ninda dihajarnya sampai menyemburkan darah, namun pukulan itu nampaknya belum mampu membunuh si monster yang malah menyeringai.

“Kamu tak mungkin membunuhku ! Sesuai takdir, aku yang harusnya membunuh dan menguasai tubuhmu….”

Putri menjerit saat tangan Ninda kembali mencoba menarik bajunya namun gagal. Kali ini Putri lebih sigap. Dia melayangkan tongkatnya dan menghajar ubun-ubun Ninda. Wajah Ninda yang penyok dan berlumuran darah kembali menampilkan seringai jelek, mengejek seolah pukulan itu tidak berarti apa-apa.

Dalam kepanikan, tanpa disengaja saat menghindari cengkeraman Ninda, tangan Putri menyentuh tuas kemudi. Perahu bergerak oleng secara otomatis dan baling-balingnya menghajar tengkorak kepala Ninda. Terdengar bunyi mengiris dan derakan bagai gergaji mesin memotong sebatang kayu di hutan, disertai lolongan kesakitan suara si monster...

Putri mendesah panjang dan menjatuhkan dirinya untuk duduk di dasar perahu. Tangisnya yang sedari tadi ditahan pun meledak...

THE END
CREDIT TITLE ROLL OVER...

Tepukan membahana seiring nama-nama pemain serta kru film terpampang di layar, bahkan sampai lampu-lampu ruangan dinyalakan karena film selesai ditayangkan. Beberapa penonton juga terlihat memberikan standing applause dan bersiul-siul sebagai tanda ikut mengapresiasi film yang baru saja diputar….Bloody Reuni.

Penonton yang puas terus memberikan tepuk tangan sampai MC maju ke depan dan memberikan kata sambutan, “Seru banget ya filmnya…kasih tepuk tangan sekali lagi buat sutradaranya, mas Rizal Montoya…”

Tepuk tangan kembali menggema dan seorang lelaki berambut gondrong yang duduk di bangku depan berdiri, melempar senyum, lalu melambaikan tangan.

“Juga buat para pemain Bloody Reuni yang menyempatkan diri hadir di pemutaran Premiere ini lengkap dengan kostum yang mereka pakai saat shooting….”

Serombongan anak muda, empat cowok dan lima cewek, yang duduk di deretan di samping Rizal Montoya ikut berdiri dan melambaikan tangan.

“Boleh maju ke depan sini nggak…supaya semua audience bisa melihat jej-jej sekalian…” kata sang MC yang kemudian mengarahkan perhatian pada sang produser. “Nah, mas Rizal…boleh kasih speech sedikit dong sehubungan dengan film barunya…apalagi kita kan kepingin tahu kenapa seorang Rizal Montoya akhirnya mau membuat film setelah sempat lama vakum. Dan kenapa genre horror yang dipilih?”

“Oke…kenapa gue mau balik lagi setelah lima tahun dan kenapa Bloody Reuni yang dipilih…” kata Rizal Montoya setelah menerima mikropon dari tangan MC. “…semuanya berawal dari secangkir kopi.”

Seulas senyum tersungging di bibir gadis yang duduk di bangku deretan kedua dari depan….ucapan Rizal Montoya membuatnya teringat pada kejadian dua tahun yang lalu…  


Bab2 dan bab-bab selanjutnya dijamin tambah seru, so silakan cari dan baca novelnya...

         

No comments:

Post a Comment