Sunday, December 25, 2016

SANTA UNTUK PERMOHONAN

Aku menatap kaos kaki merah yang terpasang di dinding kamar. Kaos kaki berbentuk lucu yang merupakan hiasan yang biasa dipakai oleh mereka yang merayakan natal. Seumur hidup aku tidak merayakan apa yang dinamakan natal, itu karena orangtuaku mengenalkanku pada keyakinan akan kebajikan, karma, dan reinkarnasi…

Bahwa apa yang kulakukan di dunia saat ini nantinya akan mendapat balasan kehidupan setimpal di kehidupan yang akan datang…karena itulah mami marah besar saat aku membawa kaos kaki itu, mungkin wanita itu mengira aku akan berpindah keyakinan…tapi bukan itu yang ada di pikiranku…

Aku mendengar tentang sosok bernama Santa Claus ini…sosoknya seorang pria bertubuh tambun dengan rambut dan jenggot lebat seputih salju dan dia punya kebaikan hati untuk mengabulkan permintaan apapun sebagai hadiah natal. Rasa penasaran pada sosok yang satu itu membuatku bertanya pada Serafina, sahabatku, tepat setahun lalu di tanggal yang persis sama seperti hari ini…

“Bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah?” tanyaku.

“Sebagian besar orang bilang lewat cerobong asap,” jawab Serafina.


“Tapi bagaimana kalau rumah kita tidak punya cerobong asap? Rumah di Indonesia mana ada yang punya yang begitu?”

“Ada yang bilang lewat jendela yang terbuka atau celah apapun yang disediakan rumah kita,” kata Serafina.

“Bagaimana bisa? Badannya kan gemuk…mana bisa dia lewat?”

“Nggak tahu, deh ! Aku kan bukan Santa Claus jadi maaf ya kalau nggak bisa jawab pertanyaan elu,” kata Serafina tak sabaran. “Kenapa sih tiba-tiba elu tertarik sama Santa Claus?”

“Kemarin lihat film natal dan kayaknya seru aja lihat kalian menggantung kaus kaki lalu menulis permohonan buat Santa Claus supaya dapat kado…”

“Tradisinya memang begitu. Tapi Santa Claus hanya legenda.”

“Legenda bagaimana?”

“Tidak ada yang namanya Santa Claus.”

“Jadi tokoh itu hanya buatan orang Kristen saja?”

“Bukan. Sosok yang sesungguhnya memang ada, Santo Nicholas yang hidup di Yunani pada abad ke-4 dimana dia memang suka memberi hadiah buat orang miskin, janda, dan anak-anak. Sosok Santo itu memang mirip dengan yang kamu bilang, berjenggot tebal dan selalu mengenakan jubah. Namanya berganti dari Santo Nicholas menjadi Sinterklas lalu Santa Claus pada abad pertengahan…”


“Aku nggak tertarik sama uraian sejarah,” kataku memasang tampang mengantuk.

“Hahaha…sorry aku kira…” Serafina jadi salah tingkah. ”Aku cuma mau kasih tahu kalau sosok yang menginspirasi Santa Claus itu memang ada...bukan  buatan…”

“Nah, berarti dia memang ada kan?” kataku bergairah.

“Ya ada…nggak maksudnya nggak adanya itu karena…”

“Sudah, deh ! Kok jadi repot banget jawab pertanyaan seperti itu? Yang aku ingin tahu apa kamu percaya bahwa Santa Claus ini memang bisa mengabulkan permintaan?”

Serafina kelihatan bimbang sejenak namun akhirnya dia tersenyum,”Waktu kecil aku mempercayainya…dia memberikan kado-kado di bawah pohon natal di rumahku saat malam natal…tapi setelah dewasa…aku belum pernah mengajukan permintaan lagi…”

“Kenapa? Kamu terlalu sibuk?”

“Nggak, mungkin karena aku mempercayai yang lain?”

“Mempercayai yang lain? Maksudnya?”

“Ya, mempercayai bahwa aku bisa mendapatkan sesuatu bila aku berusaha keras. Tidak lagi ingin bergantung pada satu sosok yang harus ditunggu kedatangannya setahun sekali…”

“Tapi dia tetap datang memberikan kadonya?”

“Sayangnya tidak. Dia akan hilag begitu kamu tidak lagi percaya padanya.”

“Aku ingin percaya padanya. Bagaimana caranya melakukan itu?”

“Maksudnya?”

“Supaya aku mendapat hadiah darinya.”

“Lia, aku…nggak tahu deh…kupikir Santa Claus itu hanya khayalan di masa kanak-kanak saja…jadi rasanya nggak mungkin…”

“Soal mungkin atau nggak mungkin biar aku yang pikirin. Jadi bagaimana supaya dia bisa mengabulkan permintaanku?”

“Ada syaratnya…jadi anak baik selama setahun…”

“Setahun?” aku terbelalak. “Dan harus apa supaya dia berpendapat aku baik?”

“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang-orang baik mungkin…” Serafina mengangkat bahu. “….apapun yang dilakukan Santo Nicholas.”

“Rasanya setahun tidak cukup untuk melakukan itu semua…” aku bergumam sendiri. “…tapi itu semua memang yang diajarkan di agamaku…lalu apa bedanya supaya Santa Claus melihatnya?”

Serafina tersenyum,”Kaos kaki.”

Aku mengangkat alis kebingungan,”Kaos kaki?”

“Beli kaos kaki, gantung di dinding, tuliskan permohonanmu di secarik kertas, dan masukan ke dalam kaos kaki. Itu yang membedakan…”

“Kalau aku melakukan itu…apa aku bisa mendapat kado yang bukan materi?” tanyaku terus mencecar.

“Misalnya?”

“Peristiwa mungkin? Atau suatu cita-cita?” aku menjawab dengan berandai-andai. “Apa dia pernah mengabulkan permintaan misalnya mempertemukan kembali dua saudara yang terpisah sejak kecil atau menyatukan keluarga yang terpecah?”

Serafina mendesah panjang,”Aku nggak tahu soal itu, Lia. Yang aku tahu Santa Claus lebih sering memberi kado berupa barang tapi…mungkin saja sih karena dia disebut pembawa keajaiban natal…jadi kemungkinan itu tetap ada…”

Oke…kalau memang aku bisa mendapatkannya maka kaos kaki rasanya tidak sulit…

Jadi aku membeli kaos kaki yang dimaksud dan menggantungnya di dinding dengan segera. Kupikir aku tidak boleh buang-buang waktu karena permintaanku tergolong berat dan Serafina mengatakan kalau Santa Claus lebih senang bila semuanya dimulai sejak awal.

Hampir genap setahun sudah benda itu menghiasi dindingku namun itu bukan hanya sebagai penghias. Kaos kaki itu menjadi motivasi dan pengingat supaya aku tetap berusaha melakukan yang terbaik menjadi ‘anak baik’ seperti yang dikatakan Serafina.

Tidak mudah memang di tengah kekacauan hidup, tapi aku berhasil membujuk perusahaan rekamanku menyumbangkan sebagian pendapatannya dari penjualan albumku untuk membantu biaya sekolah beberapa anak panti asuhan, mengajak mami berjalan-jalan ke negara yang selalu menjadi mimpinya untuk didatangi yakni Cina, meluangkan hampir sebagian besar waktuku buat mendengarkan keluh kesah teman-temanku dan memberikan ucapan motivasi bahwa apa yang mereka alami mungkin tidak seberat apa yang sedang kuhadapi, bersyukur senantiasa tiap hari dan belajar tidak mengeluh saat hal-hal buruk terjadi di tiap menitnya…

Aku menikmati itu semua…dan ternyata orang-orang di sekitarku juga merasakannya… mereka bilang aku berubah…tidak ada lagi Lia yang tanpa gairah hidup, tidak ada lagi Lia yang suka mengomel, tidak ada lagi Lia yang manja dan suka mengasihani diri sendiri. Setiap hari yang ada di pikiran hanya menambah daftar tentang apalagi yang bisa kulakukan buat orang lain, supaya aku mempertebal kepastian jenjang tingkatan sebagai anak baik dalam buku versi Santa Claus.

Dan kesemuanya kulakukan sampai hari ini…jadi hari inilah penentuannya…hari ini aku akan melihat apakah legenda tentang Santa Claus itu bisa dipercaya. Aku menjadi bersemangat sekali karenanya, terlebih saat menatap kaus kaki itu dan itu membuat mami yang sedang masuk ke kamarku jengkel,

“Masih juga kamu pandangi kaus kaki buluk itu?”

“Itu namanya kaus kaki harapan ke Santa Claus, mami.”

“Kalau mau berharap jangan sama tokoh dari budaya asing.”

“Kalau itu bisa mendatangkan harapan buat kita memangnya kenapa, mami?”

“Itukah yang membuatmu bersemangat begitu?”

“Kan aku juga tidak pindah kepercayaan seperti yang mami tuduhkan.”

“Tapi tetap saja kamu terobsesi dengan benda jelek itu.”

“Sudahlah, kan mami sendiri juga bilang aku berubah.”

Tiba-tiba mata wanita itu melembut,”Mami takut kehilangan kamu.”

“Kenyataannya seperti itu, mam. Tapi semuanya pasti akan berakhir dengan baik.”

“Itukah yang kamu tulis di dalam kaos kaki itu?”

“Mami boleh melihatnya setelah aku mendapat kadoku dari Santa Claus.”

Wanita tua itu mendengus,”Terserahlah…bersiaplah pergi ke gedung konser. Panitia sudah menjemput!”

“Aku sudah siap, mi…” kataku dengan menenteng tas besar berisi biola dan bersiap-siap keluar dari kamar.

Sebelum meninggalkan rumah aku sempat mendengar mami berkata, “Setelah tahun baru kaus kaki buluk itu akan mami buang. Sudah muak melihatnya menggantung selama setahun di kamarmu itu.”

Aku hanya diam…

Tetap diam dan mematung seperti yang kulakukan di dalam gedung konser penuh sesak malam itu…sekitar 30.000 undangan memenuhi kursi-kursi yang terhampar di depan serta sisi kiri dan kanan panggung. Aku tak tahu bagaimana nada-nada biola bisa memabukan orang-orang untuk datang mendengarkanku, bukannya tidak mensyukuri apa yang kudapat namun dulu rasanya lebih masuk akal bila orang-orang datang untuk mendengarkan penyanyi bersuara merdu daripada hanya seorang penggesek biola.  

Yah, jaman mungkin sudah berubah…

Musisi yang hanya bisa memainkan alat musik tanpa kemampuan bernyanyi seperti Yovie Widianto atau Santana pun pertunjukannya bisa dibanjiri puluhan penonton dan disinilah diriku…berdiri dengan gaun sutera biru muda yang memendarkan cahaya mengilau di tengah panggung dengan biola terpasung diantara bahu dan daguku. Mau dikata apalagi….inilah konser tunggalku….sebuah ajang besar sebagai apresiasi tertinggi dari apa yang sudah kulakukan selama ini…

Lagu kesepuluh usai terlantun dan lagi-lagi tepukan membahana sebagai pertanda pujian meruah diarahkan padaku. Seperti boneka yang terlatih aku tersenyum kemudian membungkuk memberi hormat. Orang-orang ini mencintaiku…dengan segala kekuranganku…dan aku juga mencintai mereka sehingga di lagu terakhir ini aku ingin memberikan pemuncak yang pantas mereka dapatkan…

The Neo of Moonlight Sonata…    


Aku menggarap sendiri harmoni klasik karya agung Beethoven ini dengan paduan musik retro dan gamelan bali…hasilnya album perdanaku Violiane cukup sukses. Sesuatu yang diluar perkiraan semua pihak, perusahaan rekaman ataupun aku sendiri, sebab aku membuatnya memang bukan dengan maksud mencari sukses…hanya menyalurkan apa yang membuatku bahagia…apalagi kalau bukan musik yang bagus. 

Dan di saat jemariku menari-nari diatas senar menemani harmoni yang mengalun melenakan telinga sekitar 30.000 penonton di depan panggung itu, pikiranku terhanyut pada semua masalah yang menjadi latar belakang semua ini…satu nama itu memenuhi benakku… Koko…

Karena dialah aku mendapatkan penyakit terkutuk ini…HIV Positif…yang berubah menjadi AIDS seiring bulan demi bulan di saat menjalani perawatan yang tanpa hasil. Untungnya sampai kini aku berhasil menutupi segala sesuatu dari mami sehingga aku tampak selalu sehat meski aku tahu dia sudah mulai curiga dengan hilangnya berat badanku secara perlahan.

Meski begitu aku tidak bisa menyalahkan Koko sepenuhnya. Berkat dia aku masih bernafas sampai saat ini, hanya dia yang berani mengeluarkanku dari dasar samudera ketika hiu mulai mengelilingiku. Ketololanku, atau mungkin juga terlalu asyiknya bercanda dengan teman-teman, yang membuatku lengah sampai ombak menyeretku dan aku nyaris berujung maut.

Saat itu yang kudengar hanya teriakan teman-temanku…yang paling keras salah satunya Serafina…tapi tak ada satupun dari mereka berani terjun kesana menyelamatkanku sampai lelaki itu datang menghampiriku dan berusaha mengusir hiu-hiu itu dengan caranya yang sembarangan yang membuat dia juga diserang habis-habisan. Aku kehilangan kesadaranku saat dia berhasil menarikku ke tepian dan hanya ingat bahwa tubuhnya bersimbah darah.

Melihatku tidak bergerak membuatnya panik. Dia menguncang tubuhku berkali-kali dan meneriakan namaku supaya aku bangun, “LIA…SADAR LIA…” tapi aku tidak bergeming. 

Di tengah kekalutan itu entah pikiran darimana Koko bisa memberikan nafas buatan padaku, dan itu membuatku tersentak kembali dalam dunia nyata…antara tidak terima seorang lelaki berani menciumku di saat aku tidak berdaya atau nafasnya yang bau…entahlah, tapi di detik itu juga aku memuntahkan air asin banyak sekali…   

Di saat teman-temanku segera mengerubutiku, sang pahlawan itu justru pergi diam-diam. Tadinya aku mengira dia malu untuk mengakui di depan umum bahwa dia menjadi pahlawan buatku…padahal kalau mau jujur aku sama sekali tidak malu buat mengakuinya bila dia menginginkannya. 

Hanya saja kenyataan pahit harus kuterima belakangan. Kenyataan yang kudapati saat memeriksakan diri ke dokter setelah merasakan banyak hal aneh terjadi padaku sejak peristiwa itu. Jawaban para ahli kesehatan itu jelas dan pasti…aku positif AIDS !

Aku sangsi AIDS ditularkan lewat air liur, namun tubuh Koko memang penuh darah, dan dari berita yang kudapati setahun lalu Koko memang meninggal gara-gara penyakit laknat itu. Aku tidak berminat mencari tahu bagaimana Koko bisa sampai terjangkit penyakit memalukan seperti itu…itu sudah tidak penting lagi…yang terpenting bagaimana bertahan menghadapi penyakit ini.

Dalam pertarungan yang seakan tanpa ujung dan kelelahan itu akhirnya aku mendengar sosoknya…dimana darinya aku berharap bisa mendapatkan akhir yang baik dari semua yang telah kulalui. 

Aku ingin pulih. Aku ingin seperti sedia kala. Aku ingin normal. 

Dan aku ingin lepas dari semua kecemasan yang membelenggu…kecemasan bahwa sewaktu-waktu aku harus pergi dari dunia ini….meninggalkan keindahannya yang belum kurasakan untuk sepenuhnya…

Aku sudah melakukan semua kebaikan yang kamu mau….

Apakah aku sudah menjadi anak yang baik untukmu?


Tepuk tangan penonton membahana dan mereka semua berdiri mengelu-elukan. Sekali lagi aku membungkuk dan memberi hormat sebelum akhirnya pergi menuju ruang ganti. Ketika melangkah menuju ruang ganti aku tidak merasakan apa-apa sama sekali…

Penyerahan penghargaan atas kegiatan amal ataupun tepukan pujian atas konser yang berhasil tidak lagi menggetarkan hatiku seperti kali pertama merasakannya di saat albumku keluar. Satu-satunya yang membuatku berdebar saat ini mungkin hanya momen yang sebentar lagi akan datang….momen sehari menjelang natal dimana sosok itu akan datang memberikan kado dari permintaan yang diberikan kepadanya…

Dan aku melangkah tanpa rasa ke ruang ganti itu. Duduk termangu selama hampir setengah jam lamanya tanpa melakukan apapun sampai terdengar ketukan di pintu…

TOK… TOK… TOK…

“Masuk…”

Aku duduk menatap kaca, benda itu merefleksikan gambar di belakangku sehingga aku bisa melihat pria yang masuk ke ruang gantiku. Aku tidak mengenalinya pertama-tama, namun dari tatapannya yang jenaka aku langsung sadar, “Om Karel?”

“Malam Lia…”

“Aku turun dari kursiku dan pergi memeluknya. Dia memang sudah seperti ayah buatku. 

Om Karel, boss perusahaan rekamanku inilah yang akhirnya meluluskan permohonanku untuk mendermakan sebagian uang penjualan albumku. Sudah lama aku tak melihatnya, dia memang sibuk bepergian untuk urusan bisnis, maka dari itu aku tidak langsung mengenalinya sebab perutnya sudah membuncit dan dia membiarkan janggut tumbuh menghiasi rahang dan dagunya.

“Pertunjukan yang luar biasa,” kata pria itu seraya menyerahkan karangan bunga mawar yang dibawanya.

“Cantik sekali…makasih om Karel.”

“Dan sekarang apakah kamu siap menerima kado natalmu?”

Aku mendongak, menatap wajah Om Karel dengan bingung, ”Maksud, om?”

Pria itu tersenyum dan menjentikkan jari. Jendela ruangan yang berada di lantai dua itu terbuka dan saat dia melangkah mendekati jendela tersebut aku melihat sebuah kereta yang ditarik delapan ekor rusa diluar sana.

“Bagaimana…bagaimana bisa?” aku terkesiap.

“Kamu yang mengatakan sendiri kalau ini keajaiban natal?”

“Ya…tapi dari om Karel?”

“Aku bisa datang dari manapun, Lia ! Memangnya orang seperti apa yang kamu harapkan?”

Aku mengangkat bahu,”Entahlah…pria gendut berjenggot perak?”

“Hohohoho…” om Karel tertawa. “Sepertinya orang yang kukenal. Tapi kamu pasti lebih suka berada dekat dengan orang yang wajahnya sudah kamu kenal, bukan?”

“Ya…”

“Kalau begitu ikutlah aku…”

“Kita kemana?” tanyaku masih ragu.

“Untuk mengambil kadomu. Supaya kamu bebas dari rasa sakitmu.”

Mendengar itu aku tersenyum dan menyambut uluran tangannya. Aku mengikuti om Karel naik ke kereta itu, yang ternyata dalam keadaan melayang diluar jendela lantai dua tersebut, sempat ketakutan aku bermaksud kembali ke ruangan itu namun di saat itulah aku melihat sosok seperti diriku…tengah duduk termangu menatap kaca, namun dengan posisi yang aneh karena sepertinya aku sudah….mati…

“Apa yang…”

Om Karel mendesis menyuruhku diam,”Jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan mendapat kadomu, anak baik.”

Lelaki itu menggebah tali kekang sehingga kedelapan rusa segera berlari… membuat kereta terbang ke langit malam yang bertabur bintang sementara lonceng di leher para rusa itu pun berdencing-dencing seakan menyanyikan suatu pujian yang tak asing di telingaku. 

Diantara dentang harmoni lagu itu aku bisa melihat wajah mami yang saat itu tengah mengambil surat dari dalam kaos kaki merah di kamar…aku tersenyum…akhirnya mengerti…dan mami pasti juga akan mengerti setelah membaca permohonan yang kutulis disana…


Dear Santa Claus…

Aku tidak tahu apakah engkau mengabulkan doa dari orang yang agamanya tidak mengenal engkau seperti aku ini. Tapi dari temanku, aku tahu kalau kamu sama seperti Budha… mencari kebaikan…dan orang yang mencari kebaikan tentu tidak akan menolak memberi kebaikan pada orang, bukan?

Dari kebaikan yang kulakukan aku tahu Budha memberikan kehidupan berikut yang lebih baik tapi kamu memberikan kado natal darinya. Dan untuk itu boleh aku memintanya darimu?

Semua orang yang mengalami penyakit sepertiku pasti minta kesembuhan, dan aku bukannya tidak meminta mukjizat itu, tapi aku sadar aku mungkin tidak akan bertahan lama. Karena itu ijinkan aku melakukan kebaikan yang kamu inginka selama setahun ini, sebagai imbalan kado natal untukku darimu. Aku minta kado natal berupa kematian darimu.

Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa aku memintanya sementara aku melakukan kebaikan sebelumnya. Itu tidak lain karena aku berpikir uang yang kumiliki sebaiknya kuberikan kepada mami daripada digunakan untuk pengobatanku yang sudah pasti memakan biaya besar.

Aku sudah menyiapkan sejumlah dana untuk membeli tanah dan membangun rumah mungil supaya mami tidak perlu mengontrak-ngontrak lagi, dan rasanya hanya itu yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan wanita yang sudah membesarkanku dengan susah-payah itu.

Dengan kematian cepat aku juga tidak perlu menghancurkan hatinya dengan berbagai praduga soal AIDS yang menggerogoti tubuhku ini sebab tidak ada yang patut dipersalahkan. Koko hanya menolongku dari tenggelam dan kalau hanya seorang penderita AIDS yang bersedia menolongku dari tenggelam di samudera mungkin itu memang sudah takdir, dan aku tidak mau Koko dipersalahkan…

Hanya itu kado yang kuminta untuk natal kali ini…dengan kematian bisa mempercepat langkahku menuju dunia berikutnya yang telah disiapkan Budha untukku…dan aku percaya Santa Claus bisa memberikannya padaku sebab engkau itu keajaiban natal…

Salam manis

Lia 

No comments:

Post a Comment